Kalam #1 - Watch Ur Social Media

Sosial media kini jadi bagian tak terpisahkan dari hidup seseorang, wa bil khusus, anak muda. Semua orang bebas berekspresi, mengemukakan pendapat, memperlihatkan  eksistensinya di dunia maya. Sosial media pun tak ayal menjadi wadah untuk saling terhubung dan terkoneksi dengan mudah-salah satu tanda kemajuan teknologi.

Bagai pisau bermata dua, ada manfaat, pun mudharatnya. Aku nulis ini, bukan tanpa alasan. Hanya "prihatin" saja. Mau tau fenomenanya? Slow but sure-human nowadays:

1. Tenar mendadak
Kenal awkarin, yonglek, dan kawan-kawannya kan?
Kata-kata yang 'kurang enak didengar' dengan mudahnya dibuat lagu, dengan videoklip yang 'begitulah', langsung upload seketika dan menjadi trending di chart musik populer-nya yutup. Dapet likes banyak? Tentu. Dapet ketenaran? Tentu. Dapet banyak endorse-an? Tentu. Dapet banyak viewers? Tentu. Tapi tunggu. Viewersnya siapa? Anak muda juga cuy. Bahkan banyak juga anak SD-SMP yang hafal di luar kepala lagu-lagu bang yonglek. Yang dihapal anak-anak itu lagunya yonglek, notabene ber-lirik-kan 'binatang-binatang'. Yang tenar siapa? Yonglek beserta jajarannya. Yang jadi rusak siapa? Anak mudanya Indonesia. Intinya mereka ingin melejit juga, lewat sosmed. (Jangan lupa, ini opini aku, ya)

2. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Lebih tepatnya kiasan itu (ceilah kiasan -_-) untuk penggunaan handphone sih, tapi sama aja kan, handphone isinya juga sosmed semua. Line, whatsapp, facebook, itu untuk apa? 'Berkomunikasi' kan. Ketika di meja makan, sama teman atau sama keluarga, yang kamu pegang apa? Kanan sendok kiri handphone. Atau malah kebalikannya?
Waktu di kafe, sebelum makan di 'jepret' dulu terus upload instagram. Atau kalo kafenya punya desain interior yang kece, bakal pose-pose alay dulu di setiap sudut kafe (trust me, aku pernah gitu juga lol), demi punya stok  DP baru, profile picture baru, foto instagram baru. Handphone khususnya, membuat kepekaan sosial kita menurun drastis. Sibuk chatting, lupa kalau Ibu 'lagi ngomel'. Lupa kalau Bapak lagi ngajak bicara serius, gara-gara 'main HP'.
Katanya sih meetup sama teman-teman lama, waktu ketemuan, ngobrol dikit, makan, pulang. Sibuk sama 'gadget' nya sendiri-sendiri.

3. Black Campaign.
Semua orang bebas nulis. Bebas komentar. Tinggal buat akun, mau ngapain juga terserah si empunya akun (maafin kata-kata semakin kesini semakin ngga baku.- susah istiqomahnya, bukan anak sastra). Orang-orang cerdas dengan hasil riset dan ilmunya, bebas ngeshare disosmed. Pejabat dan pemerintah yang ingin ngasih tau hasil kinerjanya supaya kerasa 'transparansinya', bebas cerita di akun masing-masing. Kalangan entertainer, bebas menceritakan kesehariannya, biar infotainment ngga susah-susah nyari bahan berita. Contohnya kaya 'l*mbeturah' gitu. Dan orang-orang awam, kalangan biasa-biasa, kelas menengah, seperti aku ini, bebas juga buat komentar. Apa-apa di komentar-in. Berita terhangat dikomentarin. Sebenarnya 'Black Campaign' ini lah yang paling bikin aku prihatin dan gemes. Masyarakat memang bebas berkomentar. Sebebas-bebasnya malah. Tapi ketika kamu punya pendapat, ngga semua pendapat kamu harus selalu jadi yang paling bener kan? Engga semua pilihan kamu, itu juga sama dengan pilihan orang lain kan? Engga semua opini kamu sepemikiran dengan orang lain, kan? Suku aja beda, apalagi opini?
Sampai santer terdengar kemaren, ada tim IT yang khusus buat mendukung seseorang (dalam perpolitikan), yang kalo misal ada artikel yang menjelekkan 'orang yang mereka dukung' maka tim IT itu akan dengan sigap membantai, mencaci berjamaah (cacian makian dengan kata-kata). Dengan akun apapun, entah akun ada orangnya beneran atau sekadar akun bodong.
Dan yang paliiiiiing aku guemes adalah, ketika kamu membenarkan opinimu, dengan menjatuhkan orang lain, yang kenal aja engga. Ironinya, sekarang sosmed kaya gitu semua. Kenal juga engga, "ngurusin hidup kamu juga engga, kok kamu tetiba jadi haters dia cuman gara-gara berita? engga pernah tau ya sekejem apa media massa?" kira-kira itu yang aku rasain dan pengen omongin ke masyarakat Indonesia yang 'udah terlanjur' suka jadi the judges. Apalagi untuk masalah-masalah sensitif seperti agama. Ada yang mendadak jadi ustadz di sosmed, yang menjelekkan para ulama dengan argumennya, padahal dia (maaf) mondok aja belum pernah, belajar tafsir al-qur'an juga belum pernah, paham agamanya sendiri juga engga. Aku sendiri juga belum pernah mondok, pengetahuan agama juga masih cetek, tapi ga berani tuh yang namanya ngomongin agama setinggi-tingginya, sampe menjelekkan ulama.

"Gausah ngomongin Islam jauh-jauh, berat-berat, tinggi-tinggi, kalo sholat subuh aja masih dirumah (buat cowok)"

Kira-kira itulah yang aku pegang. Dan juga ini:

Apa dengan ngotot memperahankan opini dan pendapatmu (yang bisa jadi benar, juga salah), akan membuatmu 'hebat'? Apalagi dalam materi-materi yang sensitif. Apa dengan membela orang yang kamu sukai dapat menaikkan derajatmu dihadapan Tuhan?

"Ngono yo ngono, ning ojo ngono"
Dan Satu lagi.
"Lamun siro pinter aja ngguroni,
Lamun siro banter aja nglancangi,
Lamun siro landhep aja natoni."

Silakan beropini, berargumen, membuat artikel atas pemikiran sendiri, tapi ingat batasnya :)

Wallahua'lam bisshawab. 

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Breath, Think, Evil, Angel, Survive, Here !

..

Followers

Contact Form






Back
to top