Listen




I just wanna be part of your symphony, kawan.

Entah mengapa aku merasa kini banyak kawan yang mampir untuk sekedar berbincang kecil, hingga yang tetiba menghubungi karna ingin mencurahkan isi hatinya.
I'm just a bit confused, as you know, my major is Islamic economics, not psychology 😅 "Lalu kenapa curhatnya ke aku? Ga salah nih curhat ke emak2 rempong?" kurang lebih seperti itulah batinku bergumam.
Walaupun ada satu dan lain hal yang membuatku punya keterikatan khusus dg psikologi, tapi itu tak dapat jadi tolok ukur.

Tapi sekarang aku sadar, mereka dg ikhlas memilihku, bukan karna aku memiliki sedikit masalah dibandingkan mereka. Kadang yang terlihat di luar tak seperti aslinya. Aku bisa sekuat karang di lautan, walau akhirnya terkikis juga. Tiap orang punya titik lemahnya masing-masing. Ujian, cobaan, dan semua yang disebut masalah, masing-masing.

Dari dulu, ada sebuah mindset yg tertanam dalam benakku. Jika ingin dekat dengan seseorang, dengarkan ceritanya. Dengarkan isi hatinya. Cobalah mengerti dia. Gali juga apa kesukaanya.

Saat mindset itu aku terapkan, benar saja. Orang yang dekat denganku menjadi nyaman untuk bercerita, privasi sekalipun. Tapi satu hal, setahun belakangan aku tidak menerapkan mindset ini. Karna sesuatu yang ku sebut "masalah" menjadikanku jauh dari konsep itu. Konsep untuk mendengar suara hati orang lain untuk dekat dengannya.
Sesuatu yang ku sebut "derita" menjauhkanku dari rasa peka terhadap sesama. Dalam konteks ini adalah sahabat, kawan, bahkan saudara.

Senjata makan tuan yang ku sebut masalah dan derita telah melemahkanku setahun ini. Aku jatuh bertubi-tubi. Sekarang memang masih tertatih, tapi setidaknya aku tahu apa yang bisa dilakukan untuk bangkit lagi.

Di rohis beberapa tahun yang lalu, aku dipertemukan dengan banyak sholeh sholihat. Yang memandang mereka saja membuatku iri. Yang bersanding dengan mereka saja praktis membuatku ciut. Yang berbicara didepan mereka semua saja aku langsung grogi dan salting tiada akhir. Aku menganggap mereka adalah jiwa jiwa terkuat, keturunan para sufi dan nabi yang saat dihadapkan dengan cobaan, tak akan gentar sedikitpun. Yang ketika diberi masalah, tak akan mudah jatuh bahkan justru bisa melesat lebih baik.

Tapi hipotesaku ternyata salah ya, kawan?
Di semester kedua ini, tercatat ada 5 orang rohis soleh solihat yang mencurahkan isi hatinya kepadaku. Shock? Tentu saja!
Bagaimana tidak? Aku mengira hanya akulah satu satu nya anak rohis berjiwa lemah yang menangisi "masalah".
Rekan-rekan rohisku ini,  ada yg menangis sejadi-jadinya di sambungan telefon.

Memang tidak semua bercerita padaku, sih. Satu perempuan yang membuatku iri sekali padanya. Tidak hanya parasnya yang indah, suaranya bagus, kulit putih, pintar pula, kalem serta well-mannered, dan dalam sudut pandangku, ia masuk kategori sholihah. Ia yang tak pernah curhat, yang jika melihat kawan menangis justru berkata "ini kenapa pada drama sih?"
Bisa bayangkan setegar apa ia saat diterpa ujian?
Nope. Aku iri, berharap satu saat bisa meniru kesholehannya.

Setahun belakangan, perasaan menjadi 'manusia paling berdosa dan paling menderita' menggerogotiku. Klise ya? Tapi apa mau dikata. Kawanku terlanjur melihat aku yg ceria tanpa beban pun derita. Jadi tetap kupasang wajah sempurna. Topeng malaikat. Yang senantiasa baik, ramah. Tapi aku tak bisa membohongi diri, ada puzzle puzzle yang hilang saat setahun belakangan aku merasakan ujian cobaan dan teguran.

Puzzle itu bernama: mendengar.
Aku tak lagi mampu mendengar, hanya ingin didengar. Hanya ingin berteriak hingga seluruh dunia mengerti. Sampai aku lelah, karna tak satupun mengerti. Saat itulah, kawan-kawan datang silih berganti menceritakan tiap potongan pahit hidupnya. Kini aku sadar, kalian dikirim supaya aku belajar. Bahwa mungkin aku memang masih 'menderita', tapi bukankah dengan meringankan derita orang lain, Tuhan akan meringankan derita kita juga? 

Sepertinya setahun belakangan aku terpatahkan oleh perkataanku sendiri beberapa minggu lalu:
"Dengan mendengar kita dapat:
Membantu orang lain,
Memberi solusi walau hanya bentuk empati,
Belajar darinya,
Meneladani jalan hidupnya,
Mengambil hikmah dari tiap cerita,
Bahkan menuliskan apa yg telah didengar"

Obat hati kita, sakit hati kita, adalah semua pemikiran positif dan pengharapan padaNya.
Aku ingat sekali, kawan, perkataan dosenku kala itu "jika kamu bersedih hati, merasakan ada yg mengganjal dan itu disebabkan oleh kecintaanmu pada orangtua, mintalah pada Allah. Serahkan padaNya. Ada bakat-bakat kasalihan di dalam dirimu yang menyayangi orangtua dengan sepenuh hati"

Aku mungkin tak dapat berkata banyak, memberi banyak. Apa-apa yg kusebut solusi untuk kalian, kawan, selalu berhenti di lidah yang kelu. Tak pernah kurasakan derita seperti yang kalian ceritakan, berani apa aku memberi solusi? Cerita-cerita kalian sungguh lagi-lagi mengajarkanku untuk sabar dan syukur.

Untuk kawanku, yang bersedih karna patah hatinya, percayalah akupun jua pernah merasakan.
Mungkin ada sedikit kata-kata yg bs membantu.
Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.
-Tere Liye.

Kawan, bantu aku untuk mendengarkanmu. Bantu aku untuk selalu sabar dan syukur tiap kali mendengar ceritamu. Bantu aku untuk menjadi manusia yang bisa bermanfaat. Bantu aku untuk tidak hanya iri pada kebaikan kalian, tapi juga meneladaninya. Berceritalah, biar aku jadi pendengar yang baik.
Jogja, 2 April 2017. 07:19am

Photos taken at Gancik Hill Top, Selo, Boyolali.

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Breath, Think, Evil, Angel, Survive, Here !

..

Followers

Contact Form






Back
to top